seorang pengembala ingin jadi sarjana



SEORANG PENGEMBALA INGIN JADI SARJANA
Cukup kata syukur.
Di pinggiran kota terdapat sebuah gubuk kecil nan reok diantara rumah-rumah yang berdiri kokoh nan megah menjadi saksi tentang kehidupan sebuah keluarga yang sederhana, sepasang suami istri yang saling menyayangi dengan empat orang anak, namun tak pernah terdengar akan keributan yang terjadi didalamnya, sebuah keluarga yang harmonis, sebuah keluarga yang selalu mena keutuhan dalam rumah tangganya, sebuah keluarga yang tidak mementingkan kehidupan yang mewah nan megah, cukup dengan kehidupan yang sederhana tetapi mampu menyukuri nikmat yang diturunkan/ diberikan oleh Allah Swt. Tak ada kata mengeluh dengan keadaan , tak ada kata putus asa, tak ada kata bosan tak dalam mengarungi hidup, namun yang ada hanyalah kata syukur dengan apa yang telah diberikan oleh Allah. Syukur yang dipanjatkat oleh mereka setiap kali iya terbangun dari tidurnya dan syukur yang iya panjatka ketika akan terbaring dalam tidurnya.

Keluarga yang sederhana ini tak pernah merasa iri dengan apa yang telah dimiliki oleh tentangganya, dan tak pernah merasa kecil dengan apa yang yang dimilikinya, ia merasa bangga dengan apa yang dimilikkinya. Iya tidak perlu kemegahan dengan aksesoris yang berlebihan, baju yang mahal, celana yang mahal, kendaraan yang mewah karna baginya semua itu hanyalah fana dan akan hilang seiringngan berjalannya waktu. Baginya kebahagiaan yang sesungguhnya adalah kebahagiaan yang terdapat didalam keharmonisan rumah tangganya dan itu merupakan kebahagiaan yang utuh untuknya, kebahagiaan tersebut iya dapatkan hanya dengan satu kata yaitu syukur karena baginya syukur mampu menguatkan hati serta sadar akan apa yang terjadi padanya, sadar bahwa apa yang sedang terjadi pada keluarganya dan sadar dengan apa yang terjadi pada tetangganya karena sesungguhnya kemiskinan dan kekayaan hanyalah cobaan yang Allah berikan. Kemiskinan yang dialaminya tak urung membuatnya merasa dibawa dan tidak ada apa-apanya namun justru dengan keadaan yang seperti itulah menjadi motifasi baginya untuk menjadi orang yang besar dan dan bermimpi untuk menggapai langit.

Diantara keempat bersaudara tidak ada satupun diantara mereka yang merasa bahwa dirinya malu dengan apa yan sedang iya miliki. Kesederhanaan, rumah yang reok, pakaian yang compang camping menjadi pemandangan baginya yang iya harus terima setiap harinya. Pantang baginya mengatakan kata mengeluh, kata putus asa, dan bosan akan keadaan yang dimilikinya. Baginya kesederhanaan adalah menjadi harta kekayaan yang dimiliki untuk menuju taraf yang lebih tinggi, iya selalu mengingat dan memegang teguh perkataan dari orang tuanya bahwa “hari ini boleh kita tidak memiliki apa-apa namun bukan berarti esok kita juga harus seperti ini, kalian adalah harapan bagi kami untuk kita menggapai langit diesok hari” perkataan tersebut menjadi motifasi baginya untuk menjadi lebih baik dihari kemudian. Tak ada yang ingin iya lakukan selain kebahagiaan kedua orang tuanya karena baginya kebahagiaan kedua orang tuanya adalah kebahagiaan yang utuh bagi mereka, cita-cita yang selalu mendorongnya menjadi lebih baik, sekolah tak pernah iya permainkan dan bahkan iya bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu karena iya brfikir bahwa ilmulah yang akan mengangkat taraf hidupnya untuk menjadi lebih baik, iya selalu temotifasi oleh kata kata ayahnya yang mengatakan “dari kecil ayah tidak memiliki apa-apa semua milik ayah telah dirampas oleh keluarga sekolah pun ayah tidak mampu, hingga akhirnya saya hanya bisa terima kenyataan namun sekarang selagi saya masih hidup kamu harus tetap bersekolah dan meraih gelar sarjana karena tak ada yang mampu ayah berikan selain ilmu yang kamu dapatkan disekolamu” dari perkataan tersebut menjadi motifasi untuk lebih baik dan meraih langit di esok harinya

Previous
Next Post »